Saya bukannya malas menulis, tapi saya ndak termotivasi menulis. Entah mengapa. Setiap memulai merangkai kalimat lalu bingung untuk melanjutnya. Rangkaian peristiwapun menjadi acak rancu dan bias. Empat kalimat tersusun, satu paragraf terbentuk lalu dihapus karena merasa tidak pas.
Sudah puluhan kali mendengarkan pelatihan menulis. Sudah berulang kali menanyakan tips kepada penulis dan jurnalis senior, tapi semua berlalu begitu saja. Manggut-manggut tanpa bisa mempraktekan dan menghasilkan sebuah tulisan.
Tengoklah blog saya www.kotakotak.net sudah lama tidak ada konten baru. Sekedar ucapan salam atau catatan harian tidak ada. Apalagi tutorial yang penulisannya memerlukan waktu pengerjakan secara khusus.
Lebih mudah mengabarkan sedang berada dimana, ngapapin, sama siapa dan berbagi foto melalui facebook. Tanpa perlu memikirkan alur kalimat, disukai atau tidak, bermanfaat bagi orang lain atau tidak, dan tetek bengek lainya.
Yap, pukul 10.59. Suara debur ombak semakin jelas terdengar dikamar. Seiring semakin sepinya lalu lalung kendaraan di jalan raya air sanih, Singaraja. Satu lembar kertas kerja masih terbuka di textEdit. Hanya berisi 2 paragraf cerita perjalan saya kemarin dari Denpasar menuju Kubutambahan, Singaraja. Rencananya akan saya posting di blog.
11.05 Saya belum juga bisa mengembangkan tulisan perjalan kemarin. Mata semakin mengantuk. AC kamar hotel yang tidak dingin dan sedikit berisik sudah saya matikan. Sepertinya saya tidak akan menyelesaikan tulisan perjalan itu untuk blog saya. Saya memang tidak berbakat menulis.
Akhirnya saya bisa menuliskan ketidakmampuan munulis saya menjadi sebuah tulisan. Tujuh paragraf, cerita singkat tentang kegundahan saya yang tak kunjung menyelesaikan tulisan. Sebuah Ironi. Selamat malam kawan.
Entah mengapa malam ini saya merindukan Bani. Anak kecil yang kadang tengal dan nakal. Seperti saya merindukan masa kecil saya yang juga tengal dan nakal. Om jus kangen Bani.